Pelatih JPE dan Megawati Soroti Keanehan Format Final Proliga yang Baru

Pelatih Jakarta Pertamina Enduro (JPE), Bulent Karslioglu, mengungkapkan keraguan mengenai format baru Grand Final Proliga 2026. Ia menilai bahwa format tersebut tampak tidak lazim dan mempertanyakan keefektifannya dalam kompetisi voli ini.

Karslioglu menganggap bahwa melaksanakan pertandingan dengan sistem best of three setelah berlangsungnya babak reguler dan final four adalah langkah yang membingungkan. Menurutnya, hal ini akan menambah beban fisik bagi para pemain yang sudah menjalani dua tahap kompetisi sebelumnya.

Dia berkomentar, “Kalau dari best of three habis [babak] reguler kemudian babak final four masih tanding lagi, terus diulang lagi grand final gitu,” saat memberikan pendapat di GOR Amongrogo. Karslioglu menganalisis bahwa hal ini dianggap menjadi pemborosan usaha.

Strategi dan Format Kompetisi Voli yang Berbeda

Berdasarkan pengamatannya, format yang digunakan dalam Grand Final Proliga terlihat tidak sejalan dengan prinsip efisiensi dalam olahraga. Ia menambahkan, “Kalau best of five, ya itu kalau sudah ranking satu dua, ya itu aja yang akan tanding. Mengapa ada final four? Buang-buang napas gitu ya,” mengisyaratkan besarnya tantangan yang harus dihadapi oleh tim.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, Karslioglu membandingkan sistem yang diterapkan di liga voli Turki. Dalam format tersebut, tidak ada babak final four sebelum final, melainkan langsung menggunakan sistem best of five.

Hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam pendekatan antara kompetisi voli di Indonesia dan di negara lain. Karslioglu berharap, dengan adanya perbandingan ini, penyelenggara akan mempertimbangkan kembali format yang ada.

Respon dari Pemain JPE Tentang Format Baru

Megawati Hangestri Pertiwi, sebagai opposite hitter JPE, juga memberikan pendapat mengenai format kompetisi baru ini. Ia membandingkan dengan sistem yang ada di Korea Selatan, tempat di mana ia pernah berkarier.

“Untung saja best of three ya, enggak best of five,” ungkap Megawati dengan nada bercanda setelah JPE memenangkan Grand Final Proliga 2026. Komentar ini menunjukkan bahwa ia merasa lebih nyaman dengan format yang ada saat ini.

Megawati juga menambahkan bahwa sistem best of five lebih umum digunakan dalam kompetisi di berbagai belahan dunia, termasuk di Korea. “Kalau di Korea, best of five, ada jedanya,” jelasnya, memberikan konteks lebih dalam mengenai pengalaman bertandingnya.

Kebutuhan Akan Perubahan dalam Struktur Liga

Adanya polemik mengenai format baru ini menandakan bahwa pihak penyelenggara Liga perlu melakukan evaluasi menyeluruh. Penilaian terhadap sistem yang diterapkan sangat penting demi kemajuan olahraga voli di Indonesia.

Dalam banyak kasus, perubahan kecil dalam format kompetisi dapat mempengaruhi performa para atlet. Pelatih seperti Karslioglu menilai bahwa sistem yang efisien bakal meningkatkan kualitas persaingan di tingkat liga.

Dengan mempertimbangkan pendapat para pelatih dan pemain, diharapkan federasi bola voli dapat menyusun struktur yang lebih baik di masa mendatang. Melihat contoh dari negara lain akan membantu mengambil keputusan yang lebih bijak.

Related posts